Ibuku Pergi
Jum'at mendung seraya ditemani gerimis kecil. Seperti biasa rutinitas menyambut setiap detik menuju menit, menemani gadis-gadis belia memugar hati-hati berusaha menjadi lebih baik lagi.
Selang suara dering hp diantara gemuruh kelas yang semakin seru ada satu chat masuk. "Teh.. ema eeng udah ga ada"
Kontan seolah cermin pecah mengujam. Berat ketika mengakhiri cerita kelas yang belum usai siang itu, berusaha tegar ketika mengujar ijin. "Mohon maaf ibu sudahi pelajaran kita.."
"Ibu pamit.."
"Ibu minta doanya juga buat ibunya ibu.."
"Yang hari ini meninggal"
Dengan serak dan berat tangispun terisak.. sementara kelas benar-benar hening dan lunglai langkah kakipun terseret keluar.
Benar.. meski kita selalu merasa siap terhadap satu perpisahan, sejatinya belum benar-benar yakin karena belum pernah mengalami. Betapa hampa hati, betapa "growak'' jiwa tatkala perpisahan itu datang tetiba.
Jum’at nan berseri kepergianmu ibu
Ayah yang termangu berebah di ruang tamu. Mulai berkisah detik-detik ketika istrinya meregang nyawa.
"Pagi-pagi mandi air hangat" ucapnya lirih
"Sarapan bubur" Untaian katanya berjeda cukup lama. Ku intip dua mata berusia lama itu seperti ada bening yang tertahan agar tidak berlinang.
"Terus minum susu"
"Tidur-tiduran santai" Kalimatnya mulai tenggelam dalam berat suara yang bergetar.
"Terus ke belakang buang air kecil"
"Jalan dari kamar mandi, kakinya tidak bisa gerak"
"Ada eeng yang bantu memapah" adik bungsu
"Bapak panggil Entin" Nama cucu
"Mungkin ibumu ingin dipegang cucunya karena selama ini kalo main nggak pernah pegang atau pijat-pijat."
":selang ke tempat tidur.. sudah tidak ada"
Komentar
Posting Komentar