Ada Sesal

 Baik, berikut ini versi puisi naratif pendek dari cerita tadi — tetap menyentuh, namun lebih puitis dan cocok untuk dibaca lirih atau dinarasikan:



---


:Sebelum Terlelap


Malam ini, sebelum mata benar-benar lelap,

aku menulis sesuatu yang tinggal jadi sesal.

Siang tadi, panas menyengat membakar pelan,

kami berlindung di bawah pohon,

memandang danau yang tenang seperti hati yang belum terusik.

Lalu datanglah seorang kakek,

memanggul karung setengah kosong,

hasil memulung hari itu.

Langkahnya pelan, seperti membawa cerita yang berat.

Ia melintas, mengitari kami.

Ada bisik empati di dada —

dan akhirnya, kami beri selembar dua lembar,

uang usang… yang rasanya pun usang.


Tapi saat beliau pergi,

kami lihat pergelangan tangannya diplester —

seperti habis dirawat, atau mungkin masih sakit.

Wajahnya menahan nyeri,

tapi tetap berjalan menjauh tanpa suara.


Kami terdiam.

Dan waktu berjalan bersama penyesalan:

bahwa kami kehilangan kesempatan berbuat lebih,

saat kami punya ruang untuk memberi lebih.


Kini malam datang,

dan aku hanya bisa menulis,

agar esok… jika ada kakek lain melintas,

tanganku tak hanya memberi,

tapi juga benar-benar peduli.




Komentar

Postingan Populer