Berbagi Pengalaman Miom Geburt


Tepatnya enam Januari 2021, pukul sembilan pagi tubuh ini merasakan dinginnya ruangan operasi. Terbaring di atas tempat tidur roda dengan pakaian khusus terlentang tanpa daya, benar- benar pasrah raga ini dipantau alat medis untuk memastikan operasi berjalan aman. 

Miom geburt.. ah nama yang asing, sekian lama gejalanya sudah saya rasakan tapi itu dia, tidak terpikir bahwa ini dikambing hitami oleh miom geburt. Di temukan dengan kepastian bahwa benar ini miom geburt setelah mengunjungi dokter kandungan yang ke tiga. 

Mendengar keluhan saya ibu dokter yang cukup punya nama di area Cibubur ini, tanpa sungkan langsung memeriksa bagian intim perempuan saya dengan  cukup detail (iya.. karena dokter-dokter sebelumnya seperti ada rasa enggan sampai memeriksa sedetail yg saya rasakan).

Akhirnya.. dengan yakin ibu dokter itu bilang, '' ini miom geburt, miom yang dilahirkan, miom bertangkai harus segera operasi inimah. Sudah ya nanti saya kasih rujukan untuk operasi di rumah sakit tempat saya kerja." Jelasnya

"Miomnya sudah cukup besar sekita 4-5 cm diameternya pasti mengganggu sekali." Ucap dokter itu sementara saya masih terbengong penuh kekhawatiran. 

Dikarenakan rumah sakit rujukan dokter tersebut tidak menerima pasien BPJS. Saya ijin untuk operasi di rumah sakit yang menerima BPJS, meski hati sangat tidak enak dengan dokter tersebut. 

Berbekal ijin dari dokter itulah hati merasa tenang untuk mengurus operasi miom geburt di rumah sakit penerima BPJS. 

Langkah pertama saya mendatangi klinik faskes pertama dokter Irman di Griya Alam Sentosa meminta rujukan rumah sakit. Setelah mendapat rujukan jatuh pada rumah sakit eks RSIA yang sudah menjadi RSU. 

Menikmati antrian dan proses sampai ACC operasi sebagai pengguna BPJS saya gunakan waktu menunggu dengan mencari hikmah dari setiap gerak yang saya lihat di rumah sakit ini. Begitu bersyukurnya saat tubuh kita sehat, dan begitu kasihannya kepada raga-raga yang sedang diuji sakit, semoga kesabaran dan ikhlas dalam menjalani ujian sakitnya, begitu juga dengan saya.

Karena masa pandemi ini, saya harus tes swab dulu. Setelah diketahui negatif berikutnya tes darah, periksa ke dokter bagian penyakit dalam, sampai dokter anastesi. 

Komplit semuanya hasilnya bagus, baru menunggu hari H untuk operasi. Oiya.. ternyata miom geburt itu tindakannya tidak sampai pembedahan, istilah kedokterannya ekstirpasi jadi lewat jalan maaf vagina. 

Alhamdulillah.. pembiusan saya hanya dibius tidur yang rencananya bius separuh badan. 

Tidak sampai menginap lagi.. siang menuju sore itupun saya diijinkan pulang karena semua kondisi badan saya tidak ada gejala yang perlu dikhawatirkan.

Nah.. teman-teman itulah kisah saya, hikmah terbesar buat saya adalah sakit itu menggugurkan dosa, orang sakit harus sabar, jaga pola makan dan pola hidup tentunya jauhi maksiat. 

Wassalamu'alaikum..

Komentar

Postingan Populer