Renungan Pencari Cinta
Saya sedang berkaca.. apakah seseorang di seberang itu mengatakan, "hei.. kamu, berapa lama hidup? Dan buat apa selama ini waktumu digunakan?"
Ada saatnya kita harus berhenti untuk meresapi hidup bukan meratapi, terkadang langkah kita yang baik-baik saja justru bisa menjadi bumerang. Loh?? Iya.. hidup yang fine-fine tanpa masalah, gembira ria bersama keluarga, sanak sahabat, dan tetangga justru harus sering dikoreksi kondisi hati.
Kenapa begitu?? Kan manusia mahluk sosial wajar dan halal dong.. betul kita sepakat untuk itu.
Yang saya gelitik adalah dalam kemahasosialan kita sebagai manusia seringkah kita tengok hati kita ada berapa volume kedekatan kepada Rabb aza wa Jalla? Berapa kali kita berkholwat cuma berdua dengan Allah Ta'ala lalu meneteslah air mata bahagia dan pertobatan atas segala perilaku tidak adab kita terhadap penguasa alam semesta (baca:maksiat).
Berdasarkan empiris saat kelekatan kita dengan mahluk berlebihan, ironisnya hubungan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengalami kepekatan dalam arti begitu berjaraknya raga dan hati dengan pemilik cinta sejati siapa lagi kalau bukan illahi Rabbi.
Lantas.. masih patutkah kita menamai diri pemburu cinta hakiki??

Komentar
Posting Komentar