Kita saling memiliki jika masih Saling Peduli
Baru saja ada hangat di dada, matapun berbinar tiba-tiba. Seutas literasi benar-benar mewakili suasana hari ini.
Kita saling memiliki jika masih saling peduli.
Kebahagiaan alami tumbuh ketika kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Bukan melulu soal keterlibatan dalam kegiatan sosial atau seberapa banyak setiap agenda event-event, nama kita tergantung pada kalung identitas panitia. Bukaaan..
Kehadiran kita di semesta ini bukan hanya tentang bagaimana mencukupi diri sendiri, namun bagaimana rasa cukup kita bisa terpenuhi dengan berbagi.
Berbagi, senyum, salam, menemani dia yang sedang berduka atau bahkan ajakan "saya traktir kamu hari ini" ini cikal. Bibit kebaikan yang akan tumbuh menjadi besar.
Berbagi apa yang bisa kita bagi adalah utas kebahagian hakiki dimensi dari aplikasi ilmu mencintai Illahi. Betul.. ketika ada nada cinta fase berikutnya harus ada ritme pengorbanan.
Infak, shodaqoh, zakat, umroh, dan haji, adalah ritme pengorbanan harta yang kita cintai.. relakah diserahkan tanpa pamrih atas nama Allah semata.
Jawaban kita ada pada *Tangan yang siap memberi, salam yang ringan terlontar, bibir yg mudah tersenyum, dan hati yang bahagia berbagi*
Komentar
Posting Komentar