Pagi Yang Basah

Melewati pagi di hari Ahad tanpa jalan pagi bareng keluarga rasanya ada yang kurang sempurna.

Selepas suami dan anak pulang dari kebiasaan suruk di masjid, kami berencana melatih otot-otot kaki minimal jalan dan mensuplai mood untuk esok Senin. 

Cileungsi menggeliat, daerah penyangga dari distrik penyangga ibukota ini tahun-tahun terakhir warganya begitu antusias olahraga pagi.

Meski fasilitas seadanya, memfungsikan sarana swasta sih kebanyakan. Salah satunya fasilitas umum dari sebuah kawasan perumahan dengan Mall yang cukup prestis, jalanan lebar dan tata letak fasilitas taman adalah ajang enak untuk sekedar bersepeda, lari, atau jalan kaki.

Awalnya tujuan kami tak berbeda jauh dengan ribuan penikmat pagi. Proyek jalan toll pasir angin kami lihat penuh manusia berolahraga, masuk kawasan perumahannya Transyogi ramainya pakai banget, boro-boro minat jalan kaki disitu turun dari mobil aja malesnya bukan main. 

Ramainya justru mempertimbangkan kesehatan kalau mau ikut-ikutan disitu, masa pandemi yang timbul tenggelam seperti sekarang harus tetap waspada juga. Melintas kerumunan itu ternyata tak semua pengunjung disitu mempunyai visi yang sama, (olahraga) buktinya banyak yang nongkrong ngopi ngerokok di pinggir-pinggir trotoar dengan pakaian tak terlihat sedikitpun niatnya berolahraga.

Kendaraan pun tetap melaju ke arah Mekarsari, bercengkerama di dalam mobil memang asyik dan sepakatlah sebuah danau  menjadi tujuan, "Danau Trenggilis" 

Disambut deretan penjual ikan segar yang berjejer manis samping danau. Suasana danau yang hening, beberapa pencari tutut dan penjala ikan menambah romansa syahdu suasana danau. 

Kami berjalan menelusuri pinggiran danau tidak ada selain kami yang niat untuk jalan-jalan disini, mereka sibuk dengan keseriusannya mencari rezeki. 

Penasaran dengan bapak-bapak pencari tutut saya samperin, agak malu-malu si bapak itu pas saya tanya, ''berapa sekilo pak?" 


"Ini pesenan orang Bu"
"Kalo mau beli disana tuh" si mamang menunjuk dengan dagu ke arah yang dimaksud.
"Saya kalo nggak karena ada yang pesen, males mba nyari tutut begini, mendingan kerja."
Sepertinya mamng ini malu dikira nyari tutut adalah profesi utamanya, sejatinya kakao mamang tahu saya tuh kagum dengan gigih dan giatnya bapak ini dari pagi atau mungkin habis subuh sudah berjibak di tempat basah seperti itu.

Padahal mang.. kalo baca faidah hadits ini.
Jika salah seorang di antara kalian pergi di pagi hari lalu mencari kayu bakar yang di panggul di punggungnya (lalu menjualnya), kemudian bersedekah dengan hasilnya dan merasa cukup dari apa yang ada di tangan orang lain, maka itu lebih baik baginya daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi ataupun tidak, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Dan mulailah dengan menafkahi orang yang engkau tanggung” (HR. Bukhari no. 2075, Muslim no. 1042).

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/33524-larangan-meminta-minta-kepada-orang-lain.html


Seperti hening dan dinginnya air danau ini ternyata memperhatikan beberapa lelaki paruh baya yang mengambil manfaat dari keberadaan danau ini kaku bertumpuk kepenatan terpantul dari air muka mereka.

"Nikmat damai alam tak senikmat suasana hati jika lupa mensyukuri"

Komentar

Postingan Populer